Senin Malam Yang Mencekam

Posted: Desember 15, 2011 in Uncategorized
Tag:,

Senin malam pukul 22.30 di sebuah perkampungan yang letaknya di sebuah kota kecil. Aku sandarkan tubuhku pada sebuah dinding pagar klinik yang letaknya tepat di samping sebuah gereja tua. Seperti biasanya aku menanti teman-temanku di tempat ini tuk sekedar bersenda gurau dan berbagi cerita. Namun malam ini tidak seperti biasanya, mereka tidak satupun kelihatan batang hidungnya. Hanya beberapa ekor anjing gereja dan serangga malam yang menemani kesendirianku.

Sebatang rokok mulai aku keluarkan dari kotaknya yang ku beli di pertigaan tadi. Ku coba tuk menyulutnya dan memainkan asapnya. Matakupun menatap tajam di sekelilingku yang begitu gelap, matakupun mencoba menerawangkeatas langit yang diterangi bulan sabit.

Malam semakin tinggi, suasana semakin terasa sunyi, terdengar jelas suara reranting dan dahan-dahan pepohonan yang dibelai angin malam yang sedikit deras. Aku mencoba berdiri setelah merasa sedikit penat terduduk. Namun tiba-tiba saja seekor anjing mengejutkanku, lolonganya nampak berbeda di telingaku, dan beberapa ekor anjingpun mulai mengikuti irama yang serupa, namun semakin lama suaranya mirip seseorang yang sedang merintih ketakutan.

Aku mencoba menenagkan benaku yang mulai terusik oleh perasaanku yang semakin takaruan, keringat dingin mulai metes di keningku, bulu di leherkupun telah berdiri satu sama lainya. Kucoba menatap sekelilingku, aku amati sekelompok anjing di depan mataku. Mereka nampak berbaring dan merintih, bahkan sebagian melangkah mundur sambil melolong panjang, seolah-olah ada sosok yang mengincarnya.

”’ Sssssttttttt….fuhssssssssshhhh…

Aku hanya bisa menghisap rokoku dalam-dalam, berharap ketenanganku yang sempat berhamburan terkumpul kembali. Belum habis rasa cemasku, nampak sesosok siluet putih dengan aroma anyir yang menusuk hidungku nampak tepat di depan mataku. Aku hanya terdiam terpaku, mulutku tiba-tiba saja terkunci dan seluruh tubuhku mulai dibanjiri keringat dingin.

”’ Tolong aku, sempurnakanlah jasadku, tolonglah aku….

Aku hanya bisa menatapnya saja, wajahnya tidak begitu jelas karena ditutupi oleh rambutnya yang hitam tergerai, kakinyapun nampak mengambang diatas tanah.

” Tolonglah aku wahay pemuda, aku ingin di sempurnakan, ikutlah denganku, aku mohon sempurnakanlah jasadku.

Sosok itupun segera membelakangiku, entah kenapa tiba-tiba saja kakiku dapat melangkah mengikutinya dari belakang. Aku terus saja berjalan masuk kedalam sebuah pekarangan bangunan gereja tua di sampingku bersantai tadi. Sosok itupun terus berjalan seiring langkah kaki dan nafasku yang semakin takaruan saja. Tiba-tiba saja aku berhenti di sebah semak-semak dan diantara pepohonan yang rimbun. Wanita itupun menunjukan sesuatu padaku lalu kemudian diapun menghilang. Aku masih saja terdiam terpaku, dan tak berapa lama akupun tak sadarkan diri.

Tiba-tiba saja tubuhku merasa panas, aku mencoba membuka mataku, ternyata matahari telah mebelai seluruh tubuhku. Aku mencoba bangkit dan mengingat-ingat kejadian semalam. Aku menatap sekelilingku, dan aku melihat segundukan tanah yang ditumpuki semak-semak di sebuah pohon besar di belakang gereja, ada seutas tali yang nampak mulai rapuh disitu. Akupun segera menuju kesebuah rumah yang terletak di samping bangunan gereja, lalu menceritakan yang telah kualami semalam kepada penghuninya.

=============

banjarbaroe 15-12-11

boil

unpublish from kompasiana.com

Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s